Kalau Ikhlas, Jangan Qurban 

September 11, 2016

Nggak bener nih, dalam setiap ibadah kita dianjurkan untuk ikhlas, termasuk berqurban, lah masak malah diminta jangan qurban kalau ikhlas, bagaimana ceritanya?

Sabar-sabar, jangan buruan esmosi dulu. Tapi beneran lho berqurban itu *mindsetnya* beda sama orang infak atau sedekah. Kalau infak atau sedekah itu tujuannya untuk membersihkan harta duniawi kita. Jelas beda dengan tujuan qurban. 

Bedanya dimana?

Ingat nggak kita ini disyariatkan berqurban meneladani siapa? _Yup_, 100! Ibadah qurban saat ini adalah ibadah yang menapaktilasi apa yang dikerjakan Nabi Ibrahim, atas perintah Allah beliau diminta menyembelih Nabi Ismail. Pertanyaannya ikhlas nggak Nabi Ibrahim saat itu. Ya nggak lah, Nabi Ibrahim galau segalau-galaunya. Jika dikumpulin alay jadi satu, terus mereka galau semua tidak akan bisa menandingi galaunya Nabi Ibrahim mendapatkan perintah dari Allah tersebut.

Bayangin coba, betapa tidak berat, sekian lama  puluhan tahun berdoa meminta dikaruniai anak,  baru dikabulkan Allah konon saat usia Ibrahim 100 tahun. Setelah punya anak… eh, disuruh ninggal di padang pasir.  Kebayang nggak perasaan saat itu. Pisah jauh, boleh ketemu lagi setelah anak bisa diajak bermain dan bekerja. Nah pas Nabi Ismail sudah gede, pertemuan menjadi sebuah euforia.. eh malah disuruh menyembelih. Ugh…

Seandainya kita yang dapat perintah seperti itu, mungkin kita mutung kepada Allah. Kita protes seprotes-protesnya, bila perlu bikin demo mosi tidak percaya. Tapi tahu nggak, itu iblis _gemes_ banget lihat Ibrahim-Ismail dan berusaha menggagalkan ketaatan anak dan bapak ini sebisa mungkin. 

Kok ya _ndelalah_, Ismail juga anak yang sholeh dan taat, sehingga saat ayahnya menyampaikan kabar ini, dia oke saja. 

Lah anak sekarang pintar-pintar, dibilang ayah mendapat perintah menyembelih kamu…bisa-bisa menjawab… _kenapa ga abah aja yang udah tua-an.. hahaha_. Mikir…

Begitulah… Kadang Allah itu menguji hamba yang paling dicintainya aja, berat kayak gitu.. lha apalagi kita. Makanya Allah bisa jadi gemes kalo ada hamba yang mendapat ujian terus berkata… _Why me God.. why me??_ Allah menjawab, _why not?_ *Apa istimewamu* sampe berkata demikian… wong hamba hambanya yang paling taatpun… ujiannya ugal-ugalan sadis begitu. 

Berqurban beda dengan sedekah. Berkurban adalah tindakan yang kita (sebenarnya) berat untuk melakukannya. Jadi parameter berkurban adalah ada *‘rasa’ kehilangan* yang melukai kita. Bila kita berqurban tapi merasa ikhlas banget… biasanya karena kurang besar. Sudah bagus sebenarnya, karena kita mau menyisihkan sebagaian rejeki kita pada orang lain serta mencoba taat pada perintah Allah, tapi bila kita ingin memperoleh derajat lebih tinggi dan makna kurban yang mendalam… cobalah untuk memberikan yang kita cintai (harta) sampai pada batas kita berat melepaskannya (Berkurban). 

Satu kambing merasa ringan… cobalah dua atau tiga. Masih merasa enteng, cobalah sapi. Punya mobil dan beberapa rumah… cobalah dua atau tiga sapi. Berapa saja…sampai pada batas anda *_ndredeg_* gemetaran (berat) dalam melepaskan harta anda.

Namun, bila satu kambing saja anda sudah merasa berat, gemeteran… maka *selamat!*

Karena melepaskan harta dunia dengan berat maka anda sudah masuk kategori berqurban dan memilih menaati perintah Allah saja daripada terus *memeluk harta*.  Sekali lagi SELAMAT! Anda sudah berhasil menyembelih ego dan rasa cinta anda pada harta. 

Saya jadi ingat seorang ustadz pernah berpesan… banyak diantara kita takut mati, karena kita telalu sibuk mengumpulkan sesuatu yang *tidak akan kita bawa “pulang”* dan kita lupa mempersiapkan bekal semestinya yang seharusnya kita bawa saat kembali. 

Kadang, untuk masuk sekolah atau universitas negeri favorit, jurusan tertentu yang diprediksi memberikan masa depan cerah atau masuk menjadi pegawai, kita rela berkorban puluhan bahkan ratusan juta dan  bisa jadi mendholimi orang lain yang mungkin lebih baik dan lebih berhak. 

Selamat merayakan hari raya QURBAN di hari Senin dan karena sekarang masih hari minggu, belum terlambat untuk menyembelih saldo rekening anda untuk bekal di bawa “pulang”.

Sudah banyak yang mengingatkan untuk puasa arafah, sholat sunnah, membaca tasbih dan semacamnya. Alhamdulillah, bagus,  namun masih jarang yang mengingatkan *untuk menyembelih rekening…* karena sepertinya ini yang paling kita cintai (nyentil diri sendiri kok)

Boleh tidak sepakat – Semoga Bermanfaat

Tidak meminta kritik dan saran, karena terlalu ngeri saya membayangkannya, kalo boleh malah mohon bimbingannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: