Sholat Gerhana Sunnah Muakkad

February 19, 2016

image

Maret 2016, tepatnya pada tanggal 9 akan terjadi Gerhana Matahari total, di beberapa wilayah di Indonesia dapat menyaksikannya secara langsung.

Mengerjakan shalat gerhana hukumnya sunnah muakkad (sunnah yang dianjurkan). Oleh karenanya, tata cara shalat gerhana dan doa sholat gerhana menjadi topik pokok untuk umat Islam demi menjalankan sunnah Rasul.

Rasulullah Muhammad saw. bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah bukti tanda-tanda kebesaran Allah. Sejatinya tidak terjadi gerhana pada keduanya karena kematian seseorang, dan tidak pula (terjadi gerhana) karena hidupnya seseorang. Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Berdasarkan riwayat di atas, telah dijelaskan bahwa gerhana adalah sesuatu yang alamiah, bukan perkara mistis, tetapi merupakan bukti kebesaran Allah semata. Oleh karenanya, kaum muslimin hendaknya menunaikan shalat gerhana, baik untuk gerhana matahari atau bulan.

Lebih diutamakan shalat ini dikerjakan secara berjamaah. Diriwayatkan, “Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam keluar menuju masjid, kemudian beliau berdiri, selanjutnya bertakbir dan sahabat berdiri dalam shaf di belakangnya.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Lalu, kapan waktu yang tepat untuk mengerjakan shalat gerhana tersebut? Shalat dikerjakan sejak terjadinya gerhana hingga peristiwa tersebut berakhir.

Adapun untuk memanggil umat untuk mengerjakan salat tersebut, tidak ada azan atau iqamah. Meskipun demikian, umat bisa diingatkan dengan seruan agar berjamaah salat gerhana, misalnya dengan mengumandangkan pengumuman  “ash-shalatu jâmi’ah” (sesungguhnya shalat akan didirikan).

Bagaimana tata cara shalat gerhana? Shalat tersebut dilakukan dalam dua rakaat, dengan masing-masing rakaat dilakukan dua ruku’. Setelah membaca Surah Al fatihah dan surah lain, kita melakukan ruku’ pertama. Kemudian, bangkit berdiri lagi untuk membaca surat Al Fatihah dan surah lain. Barulah kemudian ruku’, i’tidal, dan seterusnya hingga rakaat pertama selesai. Kemudian, tata cara tersebut diulang pada rakaat kedua.

Urut-urutan tata cara shalat gerhana adalah sebagai berikut.

1. Niat
2. Takbiratul Ikram
3. Membaca surat Al Fatihah dan surat panjang
4. Ruku’ panjang
5.  Bangkit dari ruku’ (i’tidal) dengan mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah’. Kemudian membaca Al Fatihah dan surat lainnya
6. Ruku’ lagi (panjang, tetapi lebih pendek dari ruku’ pertama)
7. I’tidal
8. Sujud
9. Duduk di antara dua sujud
10. Sujud kedua
11. Berdiri lagi untuk rakaat kedua, membaca surat Al Fatihah dan surah lain
12. Ruku’
13. Bangkit dari ruku’ (i’tidal) dengan mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah’. Kemudian membaca Al Fatihah dan surat lainnya.
14. Ruku’ lagi
15. I’tidal
16. Sujud
17. Duduk di antara dua sujud
18. Sujud kedua
19. Duduk Tahiyah akhir
20. Salam

One Response to “Sholat Gerhana Sunnah Muakkad”

  1. mhr99 said

    Syukran atas informasinya. Jazakallahu khairan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: